Wednesday, July 1, 2020

Cerita HABIB MUNZIR tentang Luka di Kakinya


Saya (habib Munzir) dulu pernah terkena sakit luka gatal gatal dikaki, namun karena saat itu musim lalat, maka lalat mengerubuti luka dipunggung telapak kaki, maka terjadi infeksi, bengkak, bernanah dan (maaf) bau dan menjijikkan, saya tak bisa pakai sandal pula sebabnya, dan dokter menyarankan untuk tidak diferban, karena jika terkena air akan semakin bernanah karena air akan membuat debu menempel, dan disana tanah kering banyak berdebu.

saya tidak berani atau malu tidur bersama teman teman, takut mereka tidur tertendang, takut mereka jijik pula jika terkena sarung mereka,
kemana mana lalat terus mengerubuti luka itu, mereka seraya menggigitnya karena kerasnya mereka menghisap nanah dan luka luka menganga itu.
maka Guru mulia yg sangat santun ini memerintahkan saya tidur di ruang tamunya, karena disitu ruang tertutup, dan lalat sangat sedikit, dan air conditioner terus hidup, demi hamba bisa istirahat dg tenang dan luka tidak tersengat panas matahari dan udara.
sekali waktu tamu tamu datang, saya tidur tidak tahu ada tamu, kalau tahu maka saya akan menghindar tentunya,

saya bangun tamu sudah kumpul, para ulama besar yg akan makan siang,
anda tahu apa yg beliau perbuat dan katakan?
ini muridku munzir, ia sedang sakit kakinya tapi ia bersabar dan itu akan membuat derajatnya terangkat.

saya duduk dari rebah dengan baju kumal dan wajah bangun tidur yg sangat tidak layak menghadapi tamu, dan guru mulia melihat saya bangkit duduk beliau memandangi saya dg pandangan tajam seakan isyarat untuk jangan kemana mana,dan beliau mengalihkan perhatian para tamu pada hal hal pembahasan macam macam, supaya tamu tidak fokus dan tidak melihat luka bernanah dikaki saya karena mereka akan makan siang.

saya menutupi luka itu pelahan lahan dengan menarik sarung usang yg saya pakai, agar tamu tak melihat luka luka besar menganga dan sangat gatal di kaki saya.
melihat saya sudah menutupi luka, maka guru mulia kembali mengarahkan perhatian tamu pada saya dan berkata : munzir ini demam dan meriang, dia tak boleh kemana mana supaya istirahat diruangan ini saja…

memang luka luka bernanah yg infeksi itu membuat saya demam..
lalu guru mulia dan tamu yg berada kira kira 7 meter dari tempat saya, makanan prasmanan mulai dihidangkan dan setelah siap, beliau berkata : wahai munzir bagaimana keadaan demam mu ?, kiranya dirimu bergeser kesini untuk makan bersama kami, atau kau lemah maka biar kami yg menggeser prasmanan ke dekatmu..?
mendengar ucapan selembut itu saya bagai disambar petir, saya bangkit dan mendekat pd mereka dg terus menutupi luka….

sarapan pagi istri beliau memerintahkan anaknya menyajikan sarapan, makan siang dan makan malam saya bersama beliau…
ketika saya mulai pulih dan kaki mulai sembuh, memang kebetulan rumah beliau hanya berjarak sekitar 30 meter dari masjid..
maka lihat budi pekerti beliau, beliau lihat saya sudah bisa jalan kemana mana, namun dasar hamba malas yg masih berusia belasan tahun ini malas ke masjid, karena kebiasaan dimanja dirumah beliau, bukan di rumah santri,

beliau berkata sambil tersenyum lebar…. Alhamdulillah… kau sudah sangat fit dan jauh lebih sehat, bagaimana wahai munzir., kau mampu sedikit berolahraga dg berjalan dan shalat jamaah di masjid?, atau aku memapahmu ke masjid?. atau kau sudah siap berjalan sendiri..?, jika belum maka tetaplah shalat disini… jangan dipaksa, nanti lukamu kambuh lagi…
maka sayapun dengan sangat malu dan hati yang hancur karena dihantam akhlak luhur, saya jalan ke masjid dan mulai lagi berjamaah di masjid sbagai mna biasa, lalu saya kembali keruang tinggal santri, beliau tersenyum puas..
belum pernah saya temukan akhlak seagung ini di dunia, inilah bayangan Rasulullah SAW..

Friday, June 19, 2020

Bersabarlah ketika Anda di Caci Maki


Suatu hari, Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq ra. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar Shidiq dan langsung mencela Abu Bakar Shidiq . Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar Shidiq tidak menghiraukannya . Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah saw. Melihat hal ini, Rasulullah Saw tersenyum.

Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar shidiq . Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar Shidiq tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah Saw kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar Shidiq dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar Shidiq tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah Saw beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar Shidiq tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar Shidiq tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah Saw yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar Shidiq berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!”

Rasulullah menjawab,
“Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnaan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah SWT.”

Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum.

Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.

Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.
Setelah itu menangislah Sayidina abu bakar Shidiq ra ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.

Wallahu ‘alam bish showab, wal ‘afu minkum,

Thursday, June 18, 2020

Kisah Karomahnya HABIB SHOLEH BIN MUHSIN AL HAMID TANGGUL


Al wali al kabir, sohibul karomah, mujabaddu'ah...terkenal doanya yg mustajab...beliau berkata 'Du'a'i yasbiqul barq', doaku mendahului petir yg menyambar... Guru Sekumpul menjuluki beliau sebagai Syekh Abu Bakar bin Salim nya Indonesia...dulunya Habib Sholeh sering mengikuti pengajian KH. Ahmad Qusyairi di Tanggul, tetapi setelah tanda-tanda kewalian Habib Sholeh mulai nampak, KH. Qusyairi lah yang mengaji kepada Habib Sholeh....awal perjalanan suluk beliau dimulai ketika bertemu Nabi Khidir di stasiun Tanggul Jember...diriwayatkan beliau uzlah selama 3 tahun...kemudian beliau berangkat haji setelah mendapat isyarah dari datuknya Rasulullah saw untuk mengunjunginya di Madinah...Sepulang dari haji beliau kaget melihat rumahnya yg sederhana telah dipugar oleh masyarakat, dg sedikit menyesal beliau mengatakan, "Padahal di rumah itu saya sholat berjamaah dg Rasulullah lima waktu". Beliau khalifahnya al Quthb Habib Abu Bakar Assegaf Gresik...Habib Abu Bakar sendiri yg memakaikan imamah di atas kepala Habib Sholeh yg mulia...Wirid harian beliau adalah dalailul khoirot dan beliau merasakan kelezatan setiap mengamalkannya...Nasehat yg paling sering beliau sampaikan adalah agar berbakti kepada orangtua, menjaga sholat jamaah lima waktu, dan mengisi waktu antara maghrib dan isya dengan membaca quran...para wali yg sezaman dg beliau, seperti Habib Husen bin Hadi Probolinggo, Habib Ali Kwitang, Kiai Hasan Genggong, Mbah Malik bin Ilyas Purwokerto, Kiai Hamid Pasuruan, Habib Idrus bin Salim al Jufri Palu, Habib Abdul Qodir Assegaf Jeddah, dll seluruhnya mengakui ketinggian maqom beliau... sampai kiai Hamid Pasuruan dulu sering berpesan kepada murid2nya : 'kalau berpergian ke arah timur hadiahkan alfatihah untuk Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid Tanggul kalau berpergian ke arah barat hadiahkan fatihah untuk Habib Husen bin Abu Bakar al Aidrus Luarbatang'...

Beliau Habib Sholeh saat menjamu tamu tanpa pandang kelas...semuanya dilayani dg baik dan ramah...bahkan beliau sendiri yg menimba air dari sumur untuk keperluan tamu-tamu...
Ketika para tamu tidur nyenyak Habib Sholeh dengan sabar mengelilingi mereka dan meletakkan obat nyamuk bakar, agar semua tamu terhindar dari gigitan nyamuk...
Saat fajar menyingsing, beliau memberi makan kambing dg kulit pisang, bahkan ikan di kamar mandinya pun tak luput dari perhatian belas kasihnya...termasuk semut yg ada di kediaman mulianya tak lepas dari perhatiannya dg taburan gula sebagai makanannya...beliau sangat luar biasa kasih sayangnya kepada makhluk-makhluk Allah...
Peninggalan Habib Sholeh yg masih dirasakan berkahnya oleh banyak orang sampai sekarang adalah sholawat Mansub...

Karomah-Karomah Beliau

1. Mengobati Putri Raja Saudi

Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Makkah adalah ulama’ besar yang jadi rujukan hampir semua ulama pada masanya. Beliau juga salah satu penasehat Raja Saudi. Saat itu, Raja memiliki anak cacat sejak lahir. Anak itu tidak punya lubang dubur, karena lubang duburnya ada di pinggang.

Tentu saja, sang raja sudah datang ke pengobatan dimana saja. Tapi hasilnya belum membuahkan hasil yang memuaskan. Akhirnya Sayyid Alawi menyarankan agar sang raja mengundang seorang habib penuh karomah dari Indonesia yang bernama Habib Sholeh Bin Muchsin Al-Hamid atau akrab disapa Habib Sholeh Tanggul.

Sang raja akhirnya mengirimkan utusan untuk meminta Habib Sholeh Tanggul berkenan datang ke Arab Saudi. Habib Sholeh akhirnya bersedia dan berangkat bersama utusan sang raja.

Sang raja sudah menyiapkan jamuan istimewa kepada tamunya yang dikenal keramat ini. Sebelum bertemu langsung dengan raja, Habib Sholeh ngobrol santai terlebih dulu dengan Sayyid Alawi, baru kemudian menghadap sang raja. Anak sang saja sudah duduk di kursi kebesarannya.

Disamperin itu anak itu kemudian ditepuk-tepuk belakangnya sambil berkata: “Bekher Ente, Bekher Ente, InsyaAllah Bekher.”

Setelah mengucapkan itu, Habib Sholeh berkata kepada Sayyid Alawi Al-Maliki: ”Ayo Habib, kita pergi dari sini, Ana pingin ke tempat antum saja.”

Sang Raja Arab yang mendengar ucapan itu langsung berkata:

”Ya Habib Alawi, inikah yang antum bilang habib keramat itu, tidak ada salam tidak ada perbincangan, malah mau pergi begitu saja.”

Sayyid Alawi tetap bersikap santai dan tenang saja. Selang beberapa saat, anak raja yang duduk di kursi tadi berteriak.

”Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lubang yang ada di pinggang ketutup berubah ke belakang sebagaimana manusia normal Lainnya. Oh iya, tadi belakang saya ditepuk-tepuk sama Habib Sholeh.”

Akhirnya sang Raja menawarkan satu peti berisi emas kepada Habib Sholeh.

“Simpan saja emasmu, Ana lebih kaya dari ente. Kalau perlu ana yang kasih ente,” jawab Habib Sholeh.

“Ya Habib Sholeh, Ana punya anak perempuan. Kalau mau putri ana, akan saya nikahkan denganmu lalu antum aku beri jabatan tinggi di sini,” kata sang raja.

“Simpan saja putri ente. Ana punya syarifah di rumah. Ana gak butuh jabatan dari Ente. Ana sudah punya jabatan dari Allah SWT.” jawab Habib Sholeh.

Mendengar pembicaraan ini, Sayyid Alawi Al-Maliki akhirnya menyarankan Habib Sholeh agar mau menerima emas tadi.

“Ya Habib Sholeh, kita di Hadromaut punya saudara-saudara yang susah. Ambil saja dan kasihkan kepada saudara-saudara kita di sana.”

Habib Sholeh akhirnya menerima saran Sayyid Alawi. Kemudian hadiah itu dibagikan kepada saudara-saudara di Hadramaut. Karena kisah ini, Habib Sholeh Tanggul di Hadramaut sana dikenal sebagai habib paling kaya di Indonesia karena sering membantu saudara-saudara yang ada di Hadramaut.

2. Mujarabnya Doa Beliau

Pernah di sebuah desa terjadi wabah penyakit ganas. Yaitu orang sakit sore keesokan paginya mati dan bila paginya sakit maka sorenya mati. Orang-orang menyebutnya penyakit 'pagebluk'. Akhirnya ada seorang penduduk desa yang datang ke Tanggul membawa sebotol air agar didoakan Habib Sholeh.

Ajaib, setelah meminum air barokah dari Habib Sholeh itu, ia langsung sembuh total dari penyakitnya. Berita kesembuhannya pun tersebar ke seantero desa. Keesokan harinya Masyarakat desa sebanyak 3 truck datang ke kediaman Habib Sholeh untuk meminta air barokah.

Habib Sholeh tentu kaget dan bingung, ada apa orang sebanyak itu datang ke rumahnya ? Setelah mengetahui maksud kedatangan mereka, Habib Sholeh memanggil perwakilan penduduk desa itu.

" Begini saja.. Di desa kalian ada danau.. ? " tanya Habib Sholeh.

" Ada bib.. "

Habib lalu mengambil secarik kertas, menuliskan sesuatu, menggulungnya lalu berkata :

"Ini kertas lemparkan di danau, nanti semua penduduk suruh minum dari situ.. "

"Baik bib.. "

Mereka lalu pulang dan melaksanakan apa yang di perintahkan Habib Sholeh. Dan benar saja, semua penduduk yang minum dari air danau itu sembuh dan sehat wal afiat. Tidak ada satupun yang mati oleh penyakit mengerikan itu.

Lurah desa takjub sekaligus penasaran apa tulisan dibalik kertas ajaib itu ?

Lalu ia pergi ke danau dan mengambil lagi kertas itu. Ia membukanya dan mencoba membaca tulisan yang ada di dalamnya. Ternyata, yang ditulis dalam kertas itu bukan rajah-rajah Arab atau semacamnya. Disitu hanya terdapat sebuah tulisan latin  yang berbunyi :

" SELAMAT TINGGAL PENYAKIT.. "

Subhanallah...

3. Mendoakan Nelayan

Suatu ketika, Habib Soleh didatangi oleh seorang pemuda yg menjadi seorang nelayan...pemuda tersebut menceritakan kepada Habib Soleh dan minta didoakan agar mendapat tangkapan ikan yg sangat besar biar bisa dijual mahal..
Kata nya dg logat madura.
"Bib, doakan saya bib semoga nanti malam manceng dapat ikan yg de gede bib. Ayo bib angkat tangannya bib doakan saya"

Kata Habib Soleh,
"Kan lebih baik kecil2 tapi setiap hari ?
Dikit2... bersyukur nanti ALLAH pasti tambah lagi"

"Bosen saya bib...
Tiap hari cil kecil teros...
Sekali2 yg guede bib..."

Karena dipaksa Habib pun mengangkat tangannya...
"Semoga ALLAH beri ente ikan yg besar...Amin..."

Alangkah senengnya pemuda tersebut...
Setelah mencium tangan Habib ia pun pergi langsung melaut pada malam hari nya...

Namun masya Allah...demikianlah doa waliallah.
Betul hari itu ia mendapat ikan yg sangat besar tapi ia tak mau ambil. Cepat2 ia kembali ke darat...Habis Subuh ia datangi lagi rumah Habib Soleh agar membatalkan permohonannya kepada Allah. Sambil ketakutan dan masih gemetaran ia menyampaikan ceritanya.

"Sudaaaahhh...Sudaaaahhh bib...kensel bib...kensel...batal bib. Jangan berdoa lagi bib..."

"Kenapa ?" tanya Habib.
"Saya saat mau tarik pancing yg pertama kali nongol matanya bib....Mata nya itu sak tempeh bib...
( maksud nya sak Tempeh itu senampan besar)
"Ampuuuuunnn bib...Mata nya aja sudah sak perahu saya bib...Lebih baik saya syukur dah dg yg kecil2 aja bib..."

Habib Soleh hanya tersenyum saja.

4. Keberkahan Foto Habib Soleh

Cerita ini pernah diutarakan oleh Al Habib Muhammad bin Sholeh Al Hamid Tanggul.

Dulu, ada pecinta Habib Sholeh di daerah Ampel Surabaya. Dia sedang sangat membutuhkan biaya besar untuk kebutuhan keluarganya. Di rumahnya terpajang foto Habib Sholeh Tanggul dan setiap ia melihat foto tersebut selalu bermohon kepada Allah dengan berkah Habib Sholeh, semoga ia mendapatkan uang yang ia butuhkan, hal itu dilakukannya berkali-kali.

Sampai pada akhirnya, Habib Sholeh didatangi oleh beberapa pejabat pemerintah utusan Adam Malik, mereka datang membawa hadiah untuk Habib sejumlah Uang yang banyak, pada waktu itu Habib Sholeh berkata pada para pejabat yang hadir di rumahnya.

"Coba ambil uang yang kalian bawa sejumlah sekian juta, dan serahkan uang itu kepada fulan yang rumahnya di daerah Ampel Surabaya, bilang ini dari Habib Sholeh Tanggul atas karunia yang Allah berikan untuknya, hanya itu saja, selebihnya kalian bawa kembali."

Waktu itu Habib Sholeh meminta kepada putranya, yaitu Habib Muhammad bin Sholeh AlHamid, untuk menulis alamatnya, dan surat kepada si penerima uangnya.

Tidak lama utusan pejabat itu sampai di rumah orang yang dimaksud Habib Sholeh,  lalu menyerahkan uang tersebut sebagaimana arahan Habib. Orang tersebut jatuh tersungkur sambil berucap Alhamdulillah, barakah cucu Rasulullah, lalu ia buka surat dari Habib Sholeh yang isinya:

"Uang ini yang kau butuhkan sebagaimana permintaanmu kepada Allah di saat memandang gambarku."

Subhanallah...

5. Pertemuan Habib Soleh dan Habib Idrus bin Salim Al Jufri Palu

Alkisah ketika Guru Tua Al Habib Idrus bin Salim Al-Jufri berkunjung kekediaman Al Quthb Maula Tanggul Jember Al-'Allamah Al-Habib  Sholeh bin Muchsin Al Hamid bin Syech Abubakar bin Salim, bersama Ustad Abdulloh Abdun [ Pendiri Pondok Pesantren Darut Tauhid Malang ] dan juga murid-murid Guru Tua lainnya.

Malam itu beliau dan beberapa santrinya tidak  bertemu dengan Habib Sholeh Tanggul, akhirnya beliau putuskan untuk menginap di Kota Tanggul. Pagi harinya beliau beserta murid-muridnya langsung bertemu dengan Habib Sholeh dan bercengkrama tentang kalam salaf-salaf bani alawiy, lalu beliau semua makan bersama.

Singkat cerita ....
Maka Al-Habib Muhamad Al-Bahar datuknya Wan Sehan Sang Wali Majdzub menyenandungkan Qosidah Nabi dengan suara yang teramat merdu sekali disertai tetabuhan Marawis dan Gendang Hajir, kemudian Guru Tua Palu Sulawesi Tengah Al-Alim Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri menari Zafin bersama-sama yang lainnya.

Suasana semakin Riuh Ramai dengan hentakan Hajir Marawis Alunan Zaffin kesenangan Para Saadah Bani Alawiy, kemudian Guru Tua menarik Tangan Al-Quthb Maula Tanggul untuk berdiri menari Zaffin bersamanya, dan Al Habib Sholeh Tanggul memainkan Samar khas Hadromi.

Subhanalloh wa Maasyaa Alloh ketika Habib  Sholeh Main Samar, foto-foto Wali Alloh { yang berada d alam barzakh } yang menempel di dinding rumahnya Al Quthb Al-Habib Sholeh bin Muchsin Al-Hamid semua berterbangan ikut Joget hingga banyak yang menyaksikan pingsan dan berteriak SUBHANALLOH... SUBHANALLOH.. MAASYAA ALLOH.
Hingga Al-Habib Sholeh dan Guru Tua Palu Habib Idrus berkata, "Penduduk barzakh juga ikut gembira atas pertemuan kami berdua...."

Hingga dihentikan oleh Al-Habib Muhamad Al-Bahr { Kakeknya wan sehan }, lalu Al-Quthb Maula Tanggul Al-Habib Sholeh waktu itu FIIL HAAL {dalam keadaan fana fillah} hingga di sadarkan oleh Guru Tua Sulawesi Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Setelah disadarkan oleh Habib Muhammad Al Bahr dan Habib Idrus Al Jufri, maka kembalilah foto-foto wali-wali Alloh yang sudah wafat ke tempatnya masing-masing.

Kisah ini diceritakan langsung oleh saksi mata kejadian yaitu Waliyah Syarifah Hababah Khadijah binti Al Quthb Al 'Allamah Al Habib Sholeh bin Muchsin Al-Hamid Maula Tanggul Jember atau Umik Njun { Ibunda Habib Hadi Assery }

6. Berkat Menghadiri Haul Habib Soleh

Setiap tahun di minggu kedua bulan syawal, ribuan orang akan tumpah ruah ke jalan untuk memperingati perayaan Haul Akbar Al Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid Di Tanggul Jawa Timur . Ada seorang jama'ah berasal dari madura yang ingin hadir kesana , ketika sampai disana beliau melihat ribuan orang yang hadir memadati tempat acara untuk hadir acara haul. Ketika acara haul selesai sudah seperti biasa panitia mengeluarkan hidangan nasi kebuli untuk para jama'ah yang hadir, karena banyaknya jama'ah yang hadir sehingga nasi kebuli banyak yang tumpah jatuh ke tanah. Lalu si madura tersebut mengambil plastik untuk memunguti nasi kebuli yang berserakan jatuh ke tanah tersebut. Setelah selesai pulanglah orang madura tersebut. Sesampai di rumah si madura tersebut membuka plastik yang berisi nasi kebuli yang dia ambil waktu acara Haul Habib Sholeh Tanggul, nasi kebuli itu di sebar ke ladang sawah miliknya, beberapa bulan kemudian sawah ladang itu menghasilkan panen yang banyak dan kualitas yang jauh lebih baik dari musim sebelumnya.

Subhanallah...

Sungguh tidak akan merugi di dunia dan di akhirat orang-orang yg hatinya terikat dg kekasih-kekasih Allah...

Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa sohbihi wa sallim. Ila ruhi habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid Tanggul al Fatihah...

Hikmah di balik Kisah Sufi: Hidup Ibarat Segenggam Garam


Alkisah seorang Guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kamu selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.

“Guru , belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

Sang Guru tertawa terkekeh. “Keh..keh..keh...Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Sang murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan Guru nya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru . “Setelah itu coba kamu minum airnya sedikit.”

Sang murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru .
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab sang murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru kembali terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Keh..keh...keh...Sekarang kamu ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke telaga di dekat tempat mereka.

“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke telaga.”
Sang murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke telaga, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan sang Guru , begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kamu minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir telaga. Sang murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air telaga, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata sang murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.
Tentu saja, telaga ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air telaga ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
“Terasakah rasa garam yang kamu tebarkan tadi?” tanya sang Guru
“Tidak sama sekali,” kata sang murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air telaga sampai puas.
“Nak, segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kamu alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakdirkan oleh Allah swt, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” ,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “

“Bukankah Allah telah berjanji dalam akhir surat Al Baqarah, “La yukalifuLlah nafsan Illa wus'aha laha maa kasabat Wa alaiha mak tasabat. Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” Sang Guru melanjutkan nasehatnya.
Sang murid terdiam, mendengarkan petuah Sang Guru Sufi yang terkenal bijaksana itu.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu akan sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya engkau tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu menjadi seluas telaga agar engkau bisa menikmati kehidupanmu”

Suami dan Keridhaannya


Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya....
Ibu.: Mbah Mun, sy sdh ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja...
Kyai. : Emangnya kenapa bu?

Ibu. : Ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.
Kyai.: Oooh gitu, cuma itu aja?

Ibu.: Sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.

Kyai.: Oooooh... iya... mau tahu pandangan saya ga bu?

Ibu.: Boleh Mbah Mun.

Kyai.: Gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas.

Ibu.: Mmm... trus apa hubungannya sama suami saya?

Kyai.: Ya... ibu berharap banget suami ibu jalankan fungsi yang sekunder, bahkan tersier barangkali. Tapi fungsi primernya ga dipakai.

Ibu.: Saya ga berharap lebih koq Mbah Mun. Sy cuma pengen dia nafkahi keluarga dengan baik. Saya cuma pengen dia jadi pemimpin yang baik.

Kyai.: Iya... itu mah cuma fungsi sampingan dari suami. Sayang atuh suami cuma diharapkan jadi begitu aja. Fungsi primernya yang paling utama malah ga ibu harapkan dan kejar.

Ibu.: Mmmmm... emang apa fungsi primernya seorang suami?

Kyai.: Fungsi primer suami ibu itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa2 ibu di neraka.
Saat ibu dapat ridho dari suami, maka... semua dosa2 ibu langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami ibu.
Jadi, seorang suami duduk diem aja, itu sangat manfaat untuk ibu, tinggal ibu aja gunakan fungsinya dgn maksimal. Lakukan apapun yang terbaik yang ibu bisa lakukan untuk dapatkan ridho suami.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan “Ayyumam raatin maatat wa zaujuha ‘anha raadhin dakhalatil jannah”

Yang artinya “Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga”

Selebihnya, itu cuma fungsi2 sekunder dari suami. Kejar dulu yg utama ini.
Suami ga kerja ya ga apa2... yang penting sudah jadi suami ibu. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi neraka.
Kalau cerai, nanti ibu langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa2 ibu ga ada yang menghapusnya, kecuali amalan ibu sangat spesial dan udah ga ada dosa sama sekali.
Ibu tinggal cari ridhonya suami. Kalau mmg ibu yang cari nafkah ya gpp. Semua harta yg ibu berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim.

Ibu.: koq bisa lebih mulia dari anak yatim?

kyai.: ya krn anak yatim ini bukan bagian dari hidup ibu. Memberikannya adalah sedekah yg hukumnya sunnah. Sementara suami, sdh terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari ibu.
Silahkan dibagi sedekah untuk org lain dengan sedekah untuk keluarga, tp yg untuk keluarga, itu yg lebih utama.

Ibu.: Tapi... kalau suami zalim bgm? Bahkan KDRT ke keluarga?

Kyai.: Ya gpp juga... tetap pertahankan. Krn semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat KDRT yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya.
Sementara... Ibu fokus aja terus cari ridhanya suami.
Pernah dengar? Istrinya Fir’aun masuk syurga? Apa kurangnya coba Fir’aun melakukan KDRT? Bukan hanya ke sang istri, Fir’aun bahkan tega membunuh bayi2.
Ke istrinya Asiyah, Fir’aun menyiksanya dan bahkan membunuhnya. Doa terakhir Asiyah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
Dia tidak meminta Fir’aun di adzab. Dia hanya meminta imbalan atas kesabarannya “ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim” (66:11)

Ibu.: Ya Allah... Mbah Mun ... trmksh atas diskusinya. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Kyai.: Ibu mau ikuti saran dari saya?

Ibu.: Apa itu Mbah Mun..?

Kyai.: Lakukan ini selama 7 hari saja... setiap malam, Tanyakan ke suami, “Abang, berapa persen ridhonya abang sama aku hari ini?”

Kalau dia jawab 95%... jangan tidur. Lakukan apapun untuk membuatnya menjawab sampai 100%. Mungkin dipijitin, mungkin dibuatkan makanan, teh, hidangkan buah, apapun... sampai dia mau jawab 100%. Baru setelah dia jawab “iya, aku ridho sama kamu 100%” nah silahkan tidur....

Lakukan selama 7 hari dan rasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang akan ibu dapatkan.

Ibu.: Baik Mbah Mun

Kyai.: Smg Allah memuliakan ibu dan suami ibu.

Ibu.: Aaaamiin ya Rabb... trmksh Mbah Mun...

SELANG 5 HARI BERLALU, IBU ITU DATANG KEMBALI MENGHADAP KYAI

Ibu.: Mbah Mun.... ya Allah... trmksh banyak... saya ga tahu mau ngomong apa sama Mbah Mun... trmksh sudah merubah hidup saya... hanya Allah yang bisa memuliakan Mbah Mun dan keluarga...

Kyai.: Alhamdulillah... gimana, saran saya, sdh dijalankan?

Iby.: Iya Mbah Mun... dan saya rasakan saya lebih bahagia sekarang. Ini suami juga sudah mulai inisiatif cari kerjaan... walaupun belum dapat, saya sudah cukup bahagia Mbah Mun, dia mau bantuin saya nganter ke mana2.... ya Allah... enak banget Mbah Mun...

Kyai.: Alhamdulillah...

Ibu.: Saya mau terus lakukan saran Mbah Mun, ga cuma 7 hari..., tapi mau saya lakukan selama2nya boleh Mbah Mun...?

Kyai.: Buoleh banget... lakukan sampai salah satu dari ibu atau suami, dijemput malaikat dengan Husnul Khotimah...

Ibu.: Huhuhu... makasiiiiih Mbah Mun...

Kyai.: Sama2

Catatan: KH. Maimun Zubair (yg sering dipanggil Mbah Mun)
Ulama besar dan Tokoh NU  dari Jawa Tengah.

Kisah Seorang Syekh berjulukan Manusia Tanpa Jantung


Syekh muhammad hariri beliau adalah salah satu murid kesayangan Al Habib Muhammad Al Haddar (mertua al habib umar bIn Hafidz )beliau terkenal dengan Mahabbah dan kerinduan beliau yg kuat dan dahsyat kepada Baginda Rasulullah Saw..suatu ketika beliau diagnosis di rumah sakit melalui X-tray (foto rongtegen). Sang dokter kaget setengah mati meliat cetak foto rongtegen pada bagian dada beliau, Sang dokter bertanya keheranan:
Engkau ini manusia atau bukan..?? Sang Syekh sambil mengeleng kan kepala, Dokter itu kembali bertanya..??
Kenapa engkau bisa hidup tanpa jantung Di mana jantung mu.?

Syekh tersenyum pelan,.Maaf jantungku ku titip kan pada kekasihku di madinah, Sayyidina Muhammad Saw.
Syekh muhammad hariri adalah orang yg sangat mahabbah ( cinta ) kepada Rasulullah dan begitu alim,Beliau hobi mengenakan pakaian serba warna hijau dan mampu meliat Rasulullah Saw baik dalam mimpi bahkan secara dhohir ( nyata )
Akan tetapi suatu ketika beliau masuk kota tarim,Beliau tidak bisa meliat Rasulullah Saw, Dan ketika beliau keluar dari kota tarim ( pulang ke tempat asal ) beliau bertemu Rasulullah Saw di dalam mimpi,
Beliau menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw,. Memgapa ia tidak dapat meliat Rasulullah ketika berada di tarim..? Dan Rasulullah menjawab, Kalau engkau udah berada di tarim, cukup sudah engkau meliat aku lewat umar, ( yaitu Al-Habib umar bin hafidz )
Jadi benar lah kata Habib Abdullah bin syihab.

" Walau pun aku tidak pernah duduk di zaman al faqih Moqoddam walau pun aku tidak pernah duduk di zaman imam Haddad Tetapi aku cukup beruntung hidup di zaman Habib Umar Bin Hafidz "

Masyaallah beruntung lah kita masih bisa satu masa dengan Al-Habib umar bin hafidz,. MUdah mudahan hati kita tambah cinta pada kakek beliau yakni Rasulullah Saw.

Aamiin

Kisah Dakwah Sunan Kalijaga Versus Rora


Ketika para Wali Songo bersidang , Sunan Kalijaga mengusulkan pendapat agar adat istiadat orang jawa seperti majlis doa selamat, dan lain-lain yang berkaitan seni dan budaya jawa tidak ditentang dan diharamkan terus. Kerana dibimbangi orang-orang jawa akan lari menjauhi islam dan para Pendakwah , apatah lagi jika mereka didakwah dengan cara kekerasan. Sebaliknya adat-adat jawa yang sedia ada tersebut diusulkan agar diterapkan unsur-unsur Islam.

Pendapat Sunan Kalijaga itu ditolak oleh Sunan Ampel , Dan berkatalah Sunan Ampel ,

"Apakah adat istiadat lama itu tidak dikhuatiri akan dianggap sebagai ajaran Islam? padahal segala adat tersebut tiada dalam ajaran Islam. Apakah ini tidak akan menimbulkan Bid'ah ?"

Pertanyaan Sunan Ampel kemudian dijawab oleh Sunan Qudus ,

"Saya sebaliknya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, Sebab asalnya ada sebahagian daripada ajaran Buddha yang mirip dengan ajaran Islam iaitu orang kaya hendaklah menolong fakir miskin. Namun berkenaan dengan kekhuatiran Sunan Ampel, saya yakin bahawa pada kemudian hari akan ada orang Islam yang menyempurnakan keadaan itu.

 Pendapat Sunan Kalijaga disokong oleh lima orang Wali sunan , sedangkan yang berpihak kepada Sunan ampel hanya ada dua org iaitu Sunan Giri Dan Sunan Derajat. Akhirnya cadangan Sunan Kalijaga diterima. Antara adat istiadat jawa yang diterapkan nilai Islam itu  ialah Majlis Doa Selamat , tahlil arwah dan  lain-lainnya yang secara dasarnya tidak bertentangan dgn aqidah Islam.

.
Pada pertemuan berikutnya, Para wali songo berkumpul selepas 40 hari Sunan Ampel meninggal dunia. Sunan Kalijaga tiba-tiba membakar kemenyan. Para Wali yang lain menganggap tindakan Sunan Kalijaga ini terlalu berlebihan kerana membakar kemenyan adalah kebiasaan orang-orang jawa yang belum Islam.

Maka Sunan Qudus berkata, "Wahai sunan, Membakar kemenyan ini biasanya dilakukan oleh orang Jawa untuk memanggil Roh orang mati. Hal ini tidak ada didalam Islam."

Sunan Kalijaga berkata, "Kita mengajak orang Jawa menerima Islam, maka kita perlu menggunakan pendekatan yang bijaksana. Kita bakar kemenyan bukan untuk panggil Roh orang mati. Tapi sekadar mengharumkan ruangan kerana kebanyakan orang Jawa hanya mengenali kemenyan sebagai pewangi, bukan wangian-wangian lain. Bukankah wangi-wangian itu sunnah Rasulullah S.A.W ? Adakah terdapat mana-mana hadis yang disebutkan larangan membakar kemenyan?"

Wali songo yang lainnya hanya diam dan mendengar sahaja , Sementara itu, Sunan Kudus yang pada awalnya berpihak kepada Sunan Kalijaga semakin risau kerana melihat Sunan Kalijaga tidak lagi berpakaian jubah dan serban sebaliknya berpakaian seperti adat jawa.

"Sunan Kalijaga memang suka melakukan perkara pelik" ujar Sunan Kudus.Tetapi janganlah Sunan Kalijaga merendahkan martabat sebagai seorang wali dengan berpakaian seperti itu"

Sunan kalijaga memang sering berpakaian yang sama seperti rakyat biasa. Seluar panjang Hitam atau biru Serta ikatan kepala berupa belangkon (serban org jawa)

Sunan Kalijaga menjawab: " Disisi Allah kita tidak mempunyai apa-apa yang istimewa. Hanya ketaqwaan menjadi ukuran darjat seseorang, bukanlah pakaiannya. Ajaran Islam hanya menjelaskan kewajipan setiap umatnya dalam hal menutup aurat. Namun tidak pula disebutkan tentang keharusan berjubah atau berkain sarung. Justeru dengan berpakaian seperti inilah saya dapat mendekati dan bergaul rapat dengan rakyat jelata , Dan dengan mudah saya dapat mengajarkan Nilai Islam kepada mereka.

Para Wali Songo bersetuju dengan pendapat Sunan Kalijaga. Tambahan pula, Sunan Kalijaga mengusulkan pendapat agar kesenian budaya masyarakat jawa seperti lagu gamelan dan wayang kulit diterapkan unsur dakwah dapat diterima oleh Para Wali songo yang lain sebagai saluran dakwah islam.

Para Wali Songo juga menjadikan persidangan sebagai majlis untuk menetapkan sebarang keputusan yang berkaitan dengan adat istiadat tempatan dan agama itu sendiri misalnya dalam urusan menjaga kebersihan seperti perintah berkhatan.

Disebabkan method dakwah Sunan Kalijaga yang tidak membuang budaya jawa dan tidak memaksa mereka menerima budaya arab , Alhamdulillah pulau jawa hari ini adalah menjadi tempat penyebaran islam , menjadi tempat pengajian pondok-pondok , menjadi tempat para pelajar islam mengaji , menjadi tempat tumpuan para mubaligh , dan akhirnya pulau jawa melahirkan ramai ulama alim dan para tahfiz dan hafizah berkat pendekatan dakwah sunan kalijaga sehingga membawa kejayaan yang besar dalam menyebarkan Syiar Islam.

Para daie dan ilmuwan islam di Malaysia hari ini patut belajar dan mengkaji cari dakwah dan pendekatan sunan kalijaga yang telah terbukti keberkesanannya , Dan bukannya asyik menuduh amalan dan budaya melayu semenjak sekian lama sebagai bida'ah dan menuduh orang islam kafir dan sebagainya. Apa guna belajar bertahun-tahun di Semenanjung tanah arab , mengambil PhD hadis , Kemudian balik ke Malaysia sibuk bida'ah kan amalan melayu yang sudah dibawa oleh para ulama alim dan tok guru pondok seperti tahlil arwah , bacaan yasin malam jumaat , menziarahi kubur , membaca wirid selepas solat , pengajian sifat 20 Allah , tasawuf , menghukum semua tarekat sesat , menuduh zikir Allah tiada berfaedah dan menegah berselawat beramai-ramai di dalam maulid nabi.

Apa gunanya Pendakwah seperti ini ? Yang sibuk menuduh orang sana sini sebagai sesat dan kafir ! Menuduh pelbagai amalan sebagai bida'ah . Ianya hanya membawa perpecahan ummat islam di tanah melayu yang semenjak sekian lama berpegang kepada mazhab syafie ! Apa sebenarnya Pendakwah seperti ini mahukan ? Mahu semua orang melayu yang telah islam meninggalkan ajaran lama yang telah dibawa oleh para Alim ulama yang sememangnya jauh lebih alim dan Tawadhu sehingga menjadi rujukan ulama di mekah dan madinah .

Jika dibandingkan dengan jasa dan keilmuan mereka , Para Pendakwah yang membawa fahaman wahabi ini seperti langit dan bumi ! Jangan Ingat para ulama dan tok guru yang tiada mempunyai Phd itu adalah jahil , Sedangkan mereka jauh lebih alim mengaji beratus kitab , Mengarang beratus kitab , menuntut ilmu sehingga lebih separuh umur mereka malah ada yang sehingga hujung usianya masih menuntut ilmu.

Baru ada PhD Hadis dah berlagak dan merasa diri lebih alim dari ulama melayu dan tok guru pondok ! Cehhhh baik tak payah balik Malaysia ! kalau nak bawak pendekatan dan dakwah seperti itu apa kata kau berdakwah di papua . di sana masih ramai yang belum islam , Ulama dan para Wali dulu sibuk mengajak orang masuk islam , Dia pula sibuk menuduh orang kafir dan sesatkan orang. Berambuslah ! Kami tak perlukan pakar hadis seperti ini , Ulama hadis dahulu alim Tauhid , tasawuf dan kitab fekah . Pakar hadis seperti ini yang kami perlukan bukan pakar hadis yang sibuk menuduh orang kafir dan bidaahkan orang ! Islam hanya akan tertegak dengan TAUHID , bukannya RORA